Bagaimana Ralau Rasa Rindumu Adalah Mimpi Burukmu?
Semua manusia merindu. Di dalam rasa rindu itu diam-diam tersimpan sebuah harapan akan kebahagiaan. Kita berasumsi, jika rasa rindu kita terpenuhi maka hidup kita akan merasa lebih Bahagia

Semua manusia merindu. Di dalam rasa rindu itu diam-diam tersimpan sebuah harapan akan kebahagiaan. Kita berasumsi, jika rasa rindu kita terpenuhi maka hidup kita akan merasa lebih Bahagia. Masalahnya adalah tidak semua kita nyaman menyimpan rasa rindu. Seperti kata Dilan, rindu itu berat. Oleh sebab itu kita berjuang meredakan sengatan rasa rindu itu. Ada yang berusaha memendamnya. Ada juga yang berusaha menghilangkan rasa rindu dengan cara mendapatkan apa yang dirindukan. Manusia akan berjuang, menangis, berkeringat untuk mendapatkan apa yang dirindukan. Namun, bagaimana jadinya kalau apa yang dia rindukan adalah sesuatu yang tidak ada wujud pemenuhannya. Dengan kata lain seberapa pun kerasnya seseorang berjuang tetap akan terus merindu tanpa ada yang bisa mengobatinya? Bagaimana kalau justru kita akan menangis setiap kali rasa rindu itu muncul karena kita tau tidak ada yang bisa mengobati rasa rindu itu?
Yap, aku mengalami kehilangan seseorang yang kukasihi. Orang itu adalah mama yang telah genap 12 tahun meninggalkanku. Papaku meninggal lebih dulu dari mama. Kematian mama membuatku menjadi seorang yatim piatu dengan seorang adik. Sepertinya sudah lama mama meninggalkanku tapi, sampai hari ini ada rasa kesedihan yang tersimpan. Betapa aku merindukan kehadirannya. Bukan berarti aku belum move on dari kepergian mama. Buktinya aku tetap bisa melanjutkan hidup. Aku bisa bekerja dengan baik. Aku bisa melakukan tugas-tugas rutin dan sederhana dalam hidup. Aku tidak menutup diri dari pertemanan dan kesempatan. Bisa disimpulkan kalau hidupku berfungsi dengan baik. Hanya, entah mengapa, rasa rindu akan mama selalu hadir bergandengan dengan rasa sedih.
Seolah-olah aku tidak bisa membicarakan mama tanpa rasa haru yang harus ditahan. Kalau tidak ditahan aku akan menangis. Dalam beberapa tidurku, aku memimpikan mama. Aku ingat betul betapa senangnya aku di dalam mimpi itu. Aku bisa mendengar suara dan melihat wajahnya. Lebih dari itu aku bisa melayaninya. Itu adalah mimpi terbaikku sampai air mata senyap menetes dari mataku yang sedang terpejam. Aku segera terbangun dari tidur karena sadar itu semua adalah mimpi. Itulah mimpi yang paling kurindukan tapi, sekaligus mimpi terburukku. Mengapa mimpi indahku harus hadir bersama dengan rasa kehilangan. Mimpi-mimpi itu terjadi bukan sesaat setelah kematiannya. Justru beberapa tahun setelah kematiannya.
Itulah yang membuatku curiga apakah aku belum kelar menangisi kepergiannya? Tapi hatiku yakin betul kalau aku sudah merelakannya. Banyak orang telah familiar tentang 5 Stages Of Grief. Aku merasa semua stages itu sudah kulalui. Tapi, kesannya aku belum move on. Hingga aku sadari kalau berduka terkadang bukan sekedar tahapan. Dia tidak linear. Terkadang dalam pengalamannya itu lebih seperti benang kusut. Aku bisa kembali sedih mengingat orang yang telah meninggalkanku. Seolah-olah tahapannya berjalan mundur.
Dalam sekuel film The Lord Of The Rings Trilogy, Frodo mengalami sebuah luka yang disebut Morgul Wound. Itu adalah sebuah luka yang tidak pernah sembuh sampai akhir film. Lukanya bisa begitu menyakitkan dada Frodo tanpa tau kapan waktu kumatnya. Seperti itulah aku membayangkan luka karena kematian kekasih. Ada sebuah lubang mengaga yang tidak bisa ditutup lagi dengan apapun. Luka itu terus hadir dan bisa tiba-tiba terasa sakit. Aku pernah berandai-andai mungkin luka ini bisa menutup kalau aku bisa memeluk mama sekali lagi saja, setelah itu tidak apa mama meninggalkanku lagi. Tapi, itu adalah andai-andai mustahil. Tak ada yang bangkit dari kematian.
Akhirnya aku menerima kehadiran luka itu. Aku sudah menganggap itu adalah bagian dari hidupku. Itulah upah yang perlu kutanggung karena mengasihi mama. Rasa sedih itu lah bukti bahwa aku mencintai mama. Justru aku harus bersukacita atasnya. Wajar jika aku sedih karena kehilangan kekasih. Justru aku perlu khawatir kalau tidak bersedih, jangan-jangan aku tidak mengasihi.
Grief never ends, but it changes. It is a passage, not a place to stay. Grief is not a sign of weakness nor a lack of faith: it is the price of love. – Elizabeth I
Lantas apakah Tuhan gagal dalam menutup lubang kosong yang terlanjur tercipta? Telah sering kudengar kalau Tuhan adalah jawaban dari semua rasa rindu kita. Apakah aku kurang rohani karena masih bisa sedih kalau mengingat mama?
“Selanjutnya kami tidak mau saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui mengenai mereka yang meninggal, supaya kamu tidak berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” – 1 Tesalonika 4:13-14
Paulus menghibur jemaat Tesalonika yang berdukacita. Paulus mengatakan bahwa kita juga punya kesempatan untuk bertemu lagi dengan kekasih dalam Kristus. Tapi bukan. Bukan itu yang jadi masalahku. Aku sudah tau betul kalau aku akan bertemu mama lagi di sorga. Masalahnya di sorga nanti, aku tidak akan mengenal mama sebagai mama lagi. Alkitab sendiri yang mengatakan kalau tidak ada kawin mengawinkan di sorga (Matius 22:30). Artinya tidak ada hubungan kekeluargaan lagi.
Tentu aku akan bisa mengenal mama sebagai mama tapi, pola relasinya sudah berubah. Aku tidak lagi bisa bersikap sebagai seorang anak kepadanya seperti sedia kala di dunia. Lantas penghiburan apa yang Tuhan sediakan bagiku?
Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." – wahyu 21:4
Ayat itulah yang membuatku masih bertahan dan tetap percaya pada Tuhan. Dia menjanjikan sebuah tempat di mana rasa sakit atas kehilangan itu akan sembuh. Seperti Frodo yang berlayar keThe Undying Landsuntuk menyembuhkan lukanya, begitu juga diriku perlu berlayar ke bumi yang baru agar Lukaku sembuh. Di sana aku akan hidup fokus hanya bagi Tuhan tanpa ada distraksi dan ratap tangis.
Lalu bagaimana aku harus hidup hari ini? Aku sangat terbuka untuk air mata atas kehilangan mama mengucur Kembali. Kapan pun, di manapun, berapa lama pun, aku membiarkannya menjadi bagian diriku. Aku tau itu tanda cintaku pada mama. Memang rasa duka bisa hadir sesukanya tapi, aku tidak perlu tunduk kepadanya.
Healthy grieving is about being able to take control of your grief rather than allowing your grief to take control of you – Sue Morris
