Articles

Carilah Bukan Curilah

Aku terkejut dan kesal pohon cabeku di curi orang. Sepulan kerja orang rumah mengatakan kalau dipagi hari ada orang yang mengambil pohon cabeku.

Carilah Bukan Curilah

Aku terkejut dan kesal pohon cabeku di curi orang. Sepulan kerja orang rumah mengatakan kalau dipagi hari ada orang yang mengambil pohon cabeku. Pencuri itu bukan hanya mengambil cabe tapi, satu pohon bersama pot dan tanahnya yang saya letakan di luar rumah. Kejadian seperti ini sudah berulang berkali-kali dan ini yang ketiga. Telah tiga kali pohon cabeku hilang bersama pot-potnya.

Di lain waktu saya sempat memergoki seseorang yang datang menghampiri pagar rumah saya. Saat itu saya sedang ada di depan pintu rumah. Saya pikir dia mau bertamu dan menyapa, ternyata ibu itu memetik cabeku dan pergi. Sontak aku tegur dari teras, ”Lain kali kalau mau, minta. Jangan asal petik.” ”Iyaa...” dia buru-buru melengos.

Saya meletakan pohon cabe di luar bukan karena mau memberi godaan pada yang melihat. Namun, justru di luar lah pohon cabeku tumbuh subur karena terpapar terus sinar matahari. Akhirnya saya menuli sebuah papan peringatan. ”Minta boleh, mencuri jangan, dosa woi.” Peringatan itu saya tempel di tembok depan rumah.

Saya selalu bertanya-tanya, apa susahnya, sih, untuk minta? Saya akan berikan asal meminta tanpa syarat. Saya tidak akan buat perlombaan balap karung atau minta orang follow akun sosmed saya hanya untuk mendapatkan cabe yang saya tanam. Tapi, sepertinya meminta itu lebih sulit daripada mencuri. Pergumulan ini bukan hanya dialami orang lain tapi, juga diriku.

Saya pun juga sering seperti melakukan itu pada Tuhan.

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. – Matius 7:7-8

Padahal sudah jelas Tuhan menjanjikan realita ini. Bagi mereka yang meminta dan mencari dari Tuhan, tidak akan pulang dengan tangan kosong. Namun, sikapku seringkali berlainan dengan firman ini. Aku tidak benar-benar datang dan meminta kepada Tuhan.

Aku punya banyak sangkaan kepada Tuhan. Salah satunya adalah kalau Tuhan tidak semurah hati itu. Tuhan mau aku berjuang keras. Tuhan mau menguji ketekukannku. Tuhan tidak mau aku menjadi malas. Dia tidak akan semudah itu memberi. Oleh sebab itu aku jarang meminta karena sudah menebak ujung-ujungnya aku perlu berjuang sendiri. Sehingga ketika aku mendapatkannya aku merasa sanggup dan bisa sendiri. Merasa Tuhan tidak terlibat dan tidak perlu terlibat dalam hidupku.

Inilah ketika aku mencuri dari Tuhan. Tidak, bukan aku yang berjuang sendirian. Kalau aku bisa itu semua karena ijin dan keterlibatan Tuhan. Hanya saja aku tidak memberi kredit pada Tuhan sebab merasa aku tidak pernah meminta.

Padahal ketika aku tidak meminta, aku kehilangan kesempatan menikmati kemurahan Tuhan. Sama seperti orang-orang yang mencuri cabeku. Benar mereka bisa mendapatkan cabeku dengan usahanya sendiri, yaitu dengan mencuri. Tapi, mereka juga kehilangan kesempatan berelasi denganku. Mereka tidak akan pernah tau kalau aku rela memberi cabe asal diminta. Begitu juga aku jika mencuri dari Tuhan. Aku akan kehilangan kesempatan menikmati betapa indahnya hati Tuhan sebab aku tidak meminta dari-Nya.

Pencurian lain yang aku lakukan adalah dengan tidak memberikan apa yang sepantasnya diberi pada Tuhan. Aku tau Tuhan itu pemilik segala sesuatu tapi, seringkali aku merebut kepemilikan itu. Tak ada hal yang melekat di diriku yang bukan dari Tuhan. Talenta, waktu, kesehatan, harta benda, kasih sayang, pertemanan, dan lain-lainnya adalah milik Tuhan.

Sayangnya, aku sering menggunakannya seenak-enaknya. Aku tidak mempersembahkannya kembali untuk kemuliaan Tuhan. Aku khawatir jika aku memberikan seluruh tenagaku untuk melayani, aku akan kekurangan tenaga untuk tujuan-tujuanku. Padahal Tuhan adalah pemelihara kehidupan yang murah hati. Tentu Dia tidak akan membiarkan aku bekerja tanpa tenaga. Akhirnya aku menahan diri untuk melayani. Bagiku menahan mempersembahkan diri sama dengan mencuri dari Tuhan.

Tuhanlah pemilik hidup kita, punya Dialah kita. Aku tidak perlu takut kehilangan hidup jika memang Tuhanlah pemilik hidup kita. Dia akan memberikan jika aku datang meminta.

Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." – Matius 7: 9-11

Memang belum tentu Tuhan akan memberi aku roti jika aku memintanya. Tapi, ayat ini memastikan kalau Tuhan tidak akan memberi aku batu jika aku meminta roti. Pemberian Tuhan adalah yang terbaik sekalipun hatiku merasa kurang pas. Keyakinan inilah yang mendorongku untuk mencari dan meminta dari Tuhan, bukan lagi mencuri.