ArticlesRelasiPasangan HidupPernikahan

Mencari Pasangan Hidup #1

Kita perlu mengetahui lebih dulu apa yang berharga bagi diri kita. Apa yang menjadi value dan nilai yang kita junjung tinggi dari hidup. Nilai ini lah yang tidak bisa ditawar-tawar.

Relationship

Mencari pasangan hidup itu sudah seperti mencari ojek online saat hujan deras. Aplikasi beroperasi, order terpasang tapi, tidak ada yang datang. Uniknya di era saling terkoneksi ini, justru semakin sulit rasanya mencari belahan hati. Meski teknologi membuka peluang besar bagi kita untuk mengenal semakin banyak orang tapi, ternyata tidak sejalan dengan meningkatnya rasa percaya.

Bagi sebagian orang, mereka mencari pasangan hidup baiknya di luar circle pertemanan. Alasannya adalah karena yang satu circle sudah ketahuan seperti apa. Jadinya mencari yang baru jauh lebih baik karena menimbulkan rasa penasaran. Lainnya mencari yang satu circle tapi, tidak ada yang dia rasa cocok. Ada lagi yang sudah saling dekat tapi, masing-masing ragu kalau akan berhasil. Banyak sekali tantangan yang membuat kita kesulitan untuk mendapatkan teman sejiwa. Lantas bagaimana agar kita bisa mendapatkannya?

Tulisan ini bukan bersifat sebuah resep agar sebuah hubungan terjadi. Tulisan ini adalah sebuah pelajaran yang diambil dari banyak cerita, khususnya pengalaman pribadi sendiri tentang mencari pasangan hidup. Jika ada hal yang tidak setuju tidak apa. Bukan juga mau mengatakan ini adalah satu-satunya cara yang paling tepat dan benar. Namun, semoga tulisan ini bisa menjadi teman perjalanan kamu mencari pasangan hidup.

Sadari Idealisme Dalam Romantisme

Beberapa banyak orang yang sulit mencari pasangan oleh karena idealisme yang dibuat sendiri. Mereka mencari pasangan yang berada dalam imajinasi sendiri. Akhirnya mereka mengejar pikiran sendiri. Ini membuat pencarian akan pasangan tidak menyentuh realita.

Bukan berarti tidak boleh punya idealisme. Idealisme itu satu sisi bagus. Itu menolong kita untuk menyaring calon pasangan. Sehingga kita tidak sembarangan menerima siapa pun dalam hidup. Tapi, kita juga harus tau yang mana dari idealisme kita yang ternyata kita bisa hidup berpasangan tanpanya, dan mana yang ternyata harus ada dalam calon pasangan kita.

Dulu gw punya kriteria kalau berpasangan berarti harus saling excited dengan apa yang membuat pasangannya excited. Misalnya jika saya tertarik menonton film action, maka pacar saya harus mau belajar menonton film action itu bersama gw. Tidak harus dia jadi suka dengan film action, cukup untuk mau mencari tau saja apa yang saya tonton. Saya senang jika pasangan saya penasaran dengan film action yang saya tonton.

Pernah satu kali gw ajak pacar nonton film The Batman. Saya suka sekali tapi, sepanjang film dia ketakutan. Oleh karena filmnya memang menegangkan. Dia nonton hanya ingin tau saja selera saya seperti apa. Namun, setelah itu dia tidak pernah tertarik nonton film apa pun yang saya tonton. Muncul rasa penasaran untuk mencari tau pun tidak. Intinya adalah kalau gw tertarik dengan sesuatu, dia akan membiarkan saya melakukannya. Buat dia tidak perlu mencari tau tidak apa.

Awalnya itu masalah buat saya. Saya menafsirkan sikapnya sebagai sikap yang tidak tertarik dengan gw. Tidak mau kenal dan peduli dengan gw. Padahal dia tetap mengasihi gw. Dia bisa mengerti kesukaan gw tapi, dia tetap tidak penasaran dengan apa yang gw suka. Saya bisa saja ngambek karena hal itu. Tapi, setelah gw pikir lagi, yah, tidak apa kalau dia tidak tertarik dan tidak mau cari tau juga dengan apa yang gw suka. Itu bukan berarti dia tidak tertarik dengan saya.

Toh, dia tetap mau dengan pribadi gw. Dia menerima pribadi gw yang suka dengan film action. Utamanya adalah dia tidak menghalangi dan membenci selera gw. Asal dia mencintai pribadi saya itu cukup. Jadi apa yang saya kira dulu adalah idealisme ternyata saya bisa hidup tanpa itu. Dulu saya meromantisme hal tersebut. Jika saya interest akan hal tersebut dan dia mau belajar memahaminya, maka kami bisa melakukannya bersama. Padahal sampai sekarang saya tetap tidak tertarik menonton film Korea. Saya sesekali bertanya tentang film yang dia tonton tapi, tetap tidak mau menonton bersama dia.

Temukan Nilai yang Tidak Bisa Ditawar

Bagaimana mengetahui kalau kita bisa hidup tanpa idealisme itu? Kita perlu mengetahui lebih dulu apa yang berharga bagi diri kita. Apa yang menjadi value dan nilai yang kita junjung tinggi dari hidup. Nilai ini lah yang tidak bisa ditawar-tawar. Kalau kita menjunjung tinggi kejujuran maka carilah pasangan yang jujur. Termasuk saat berkomunikasi.

Kejujuran adalah salah satu nilai yang saya kejar dalam pernikahan. Bagi saya jujur adalah modal untuk keintiman. Syukurnya begitu pun juga dia. Itu terlihat dalam pilihan-pilihan hidupnya bukan sekedar terdengar dari mulutnya saja. Dalam berinteraksi dengan saya pun juga dia memilih jujur. Apa yang dia suka, dia tetap katakan tidak suka. Pikiran-pikiran asumtif yang mungkin akan menyakiti saya, dia sampaikan dengan baik. Dia tidak poles-poles, dia mau mengenal saya dengan sejelas-jelasnya, apa adanya. Oleh sebab itu dia berusaha mencari klarifikasi atas asumsi dia terhadap diri saya. Kalau memang benar berarti itu akan menjadi bahan pertimbangan apakah saya merupakan pasangan yang tepat untuknya.

Saya ingat sebelum pacaran, dia mengajak saya bertemu di salah satu mal grosis. Waktu itu sudah malam. Tapi, dia merasa perlu membicarakannya karena ada hal yang mengganggu dari diri saya. Kami duduk di sebuah kursi tunggu penumpang. Kami ngobrol sambil melihat bus-bus lewat membawa penumpang. Dia bertanya apakah saya merupakan orang yang pelit. Dia menyampaikan pertanyaan itu dengan rasa khawatir. Dia takut saya akan marah dan malah memilih berhenti mengejarnya. Dia takut kalau pertanyaannya akan menyinggung dan menyakiti ego saya. Padahal saat itu dia sudah mulai menyukai saya. Namun, jika saya akhirnya pergi meninggalkan dia, lebih baik begitu pikirnya. Dia tidak bisa hidup dengan orang pelit.

Lebih baik kehilangan kesempatan untuk pacaran daripada memaksa hidup dengan orang pelit, begitu pikirnya. Meski pun ada resiko dia tertolak dan sakit hati jika saya pergi tapi, dia tetap mengambilnya. Dia mau memiliki pernikahan yang penuh kemurahan hati. Tanpa itu berarti tidak ada pernikahan. Hal itu tidak dapat dia tawar. Itu adalah nilai yang dia kejar dalam pernikahan. Lampu-lampu mal sudah mulai padam. Saya malah tertawa mendengar pertanyaannya. Saya jujur terhadapnya. Saya mengakui saya pelit tapi, untuk diri sendiri. Saya bahkan sering berbagi kepada tetangga saya termasuk dalam hal dana. Itu membuat dia yakin menikahi saya.

Cari Tau Sumber Inspirasi Dalam Berelasi

Relasi pacaran

Cara berikutnya untuk mengetahui apakah itu idealisme atau bukan adalah, apakah imajinasi pernikahan saya terpengaruh oleh pandangan populer tentang relasi? Atau itu berasal dari pergumulan kita dengan Tuhan? Siapa yang kita jadikan teladan dalam pernikahan? Apakah itu berasal dari selebriti? Saya justru lebih berharap agar kita punya teladan pernikahan dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Mengapa? Karena mereka lebih dekat dan mudah untuk kita perhatikan.

Jika kita mengambil pernikahan orang lain dari sosial media, maka sulit sekali kita bisa tau detail susah-senang pernikahan tersebut. Sebab jarang sekali ada pernikahan jujur di dalam sosial media. Jujur saat senang sangat mudah ditemukan tapi, jujur saat sulit? Pendeta, senior, orang tua, om-tante, kakek-nenek, atau siapa pun yang dekat dengan kita akan sangat menolong membantu pandangan kita akan pernikahan.

Kemudian jika kita punya idealisme dalam pernikahan, tanyakan prinsip apa yang sebenarnya saya kejar dari idealisme itu? Itu akan sangat menolong kita memisahkan antara romantisme dan idealisme.

Terakhir adalah tidak perlu takut mengakhiri relasi. Jika memang harus berakhir, lebih baik begitu daripada menikah tanpa prinsip yang kita kejar. Terkadang kita baru tau ternyata kita tidak bisa berelasi dengan orang yang ambisius setelah kita berpasangan dengan dia. Kita baru tau kalau kita sebenarnya mencari seorang family man setelah kita berpacaran dengan pria yang sibuk dengan berbagai acara di luar. Jadi memang ada idealisme yang kita baru temukan setelah kita sudah berpacaran. Ya, itulah realita hidup. Kadang kita baru menemukan apa yang diri kita setelah kita berada di tempat yang bukan diri kita. Di situlah kita baru akan sadar apa yang sebenarnya menjadi hal utama bagi kita. Perjuangkan.

Mencari pasangan hidup memang tidak mudah. Kadang seperti memesan ojek saat hujan deras: aplikasi berjalan, pesanan masuk, tapi tidak ada yang datang. Namun perjalanan ini bukan hanya tentang menemukan orang yang tepat. Ini juga tentang mengenal diri sendiri dengan lebih jujur. Kita belajar membedakan mana romantisme yang indah dalam imajinasi, dan mana nilai yang benar-benar kita butuhkan untuk menjalani hidup bersama seseorang. Dan mungkin, ketika kita semakin jelas dengan nilai itu, kita juga semakin siap ketika akhirnya seseorang benar-benar datang.

Gambar: unsplash.com