Kehadiran Konstan Tuhan di Tengah Pencarian Pasangan
Ketahanan Fera dalam mencari pasangan bukan berasal dari kerinduan yang besar untuk berpasangan. Melainkan dari kesetiaannya mencari Tuhan.

Bagi Fera Minesa(disamarkan), mendapatkan pasangan seperti menunggu keran tersumbat. Ia sudah siap hanya saja tidak ada siapa-siapa yang melihat kesiapannya. Menurutnya umur yang ideal untuk menikah itu berkisar antara 27-28 tahun. Harusnya di umur segitu seseorang sudah mencapai kemapanannya. Bukan berarti seseorang harus kaya di umur segitu tapi, sudah dewasa untuk menikah.
“Umur segitu sudah cukup modal untuk menikah. Pengetahuan, pengenalan, keuangan, kedewasaan bersikap, sudah puaslah hidup sendiri.”
Hanya saja ia harus merancang ulang mimpi ketika umurnya telah lebih dari 28 tahun. Pelan-pelan ia menapaki phase kritis, begitu sebagian orang menyebutnya. Tidak mudah bagi Fera hidup dalam kesendiriannya selama 9 tahun dari mantan terakhirnya. Meski begitu Fera tidak tinggal diam. Fera tau rencananya dan mengusahakannya.
“Aku semakin yakin harus menikah. Memang sahabat banyak tapi, kalau nanti mereka menikah pasti semakin ada batasan. Dulu bisa pulang malam, sekarang harus buru-buru karena ada keluarga. Sedangkan aku butuh cerita dengan dalam. Jadi aku mikir kalau ada pasangan dapat menolong kebutuhan ini.” Selama 7 tahun itu, Fera belajar mengenal dirinya walau pun tidak banyak pria yang mau sungguh-sungguh mengenalnya.
Sebuah kekhawatiran muncul di dalam hatinya ketika melihat teman-teman seumurannya menikah. “Takutnya percakapannya sudah beda. Kalau ngumpul lagi nanti yang lain bicarakan soal keluarga, anak, pernikahan, pasangan, aku sendiri yang merasa roaming. Jadi merasa tertinggal dan cast out dari topik pembicaraan.” Hidup terkesan tidak maju-maju. Ketika orang lain sudah memiliki pergumulan lain, Fera masih saja dengan pergumulan yang sama.
Selama masa penantiannya, Fera bukan hanya menunggu. Dia aktif mencari. Beberapa orang sempat dekat dengannya. Tapi, relasi-relasi itu berhenti tanpa kejelasan. Bahkan Fera sudah menggunakan beberapa dating apps. Terakhir dia mencoba untuk mengikuti sebuah komunitas suku Batak dari sosial media. Komunitas tersebut biasa berkumpul di suatu tempat makan.
Fera duduk di sebuah meja panjang. Sekelilingnya duduk beberapa orang dengan maksud yang sama seperti dirinya. Meski ruangan itu terbuka tapi, asap rokok tetap tebal mengepul. Live music bersaing dengan riuhnya derit sendok garpu dan gelak tawa. Fera memperhatikan setiap interaksi yang terjadi. Siapa tau ada yang cocok dengannya.
Sebagai seorang percaya dan aktif melayani, dia terkejut dengan kejujuran yang terdapat dalam komunitas itu. Fera menghargai kejujuran-kejujuran tersebut. Hanya saja dia tidak siap untuk menerimanya. “Ada yang sudah freesex, selingkuh, merokok, aku merasa jadi orang yang paling alim sendiri di situ. Rasanya aku seharusnya tidak mencari pasangan dalam Tuhan di komunitas ini.” Waktu pertemuan yang larut malam dan rasa takut mendapat pasangan tak sepadan mengurungkan niatnya mencari dari komunitas itu.
“Kamu kegendutan. Udah dibilang diet. Jadi orang rapi sedikit, pantas aja dia pergi. Mana ada yang mau kalau begitu.” Ibunya menasihati saat seorang pria putus kontak usai pertemuan pertama dengannya. Fera tidak marah dengan Tuhan. Dia tidak kecewa. Dia hanya merasa dikhianati oleh keluarganya.
“Paling sakit itu waktu mama menyalahkanku atas kesendirian ini. Padahal aku sudah berjuang banyak untuk mencari, bukan menunggu. Dia tidak tau kalau aku sudah pakai banyak aplikasi dating. Tidak tau kalau sudah tanya sana-sini. Rasanya seperti direndahkan dan tidak dipercayai. Padahal aku butuh support mama.” Fera semakin dekat dengan ibunya setelah kepergian sang ayah beberapa tahun silam.
Fera tidak mau ibunya kelewatan tidak bisa melihat dia menikah seperti sang ayah. Ketakutan ini terus menjadi salah satu penggerak bagi Fera untuk mencari pasangan. Hanya saja komentar ibunya seringkali menjadi sebuah rantai batu di kaki Fera. Setiap kali komentar serupa diucapkan Fera merasa rendah diri.
“Memang ada yang salah, yah, dengan aku? Malah jadi semakin sedih. Orang di luar sana tidak bisa melihat ada potensi dalam diriku. Eh, keluarga yang diharapkan paling bisa melihat malah membuat merasa tidak cukup.” Komentar-komentar itu membuat Fera penuh dan berhenti mencari beberapa kali.
Dari 2021-2025, sudah ada 3 orang yang ia dekati. Semuanya gagal tapi, ia tetap yakin bahwa Tuhan akan memberikannya pasangan walau usia semakin mendekati 40 tahun. Dia tetap aktif mencari pasangan. Mencari rekomendasi nama. Memberikan sinyal keterbukaan sekali pun hatinya terus meragukan keberhargaan diri. Dia tau Tuhan mengasihinya. Mazmur 23 bukan sekedar ayat favorit melainkan penghiburan yang hidup. Di malam-malam kesendiriannya, Fera percaya dia dikasihi. Dia berharga ada atau tidak ada pasangan. Gembala Agung itu memimpinnya ke padang rumput hijau.
Keyakinan ini muncul bukan dari sebuah peristiwa besar. Kotbah-kotbah yang didengarnya, saat teduh yang dilakukannya, percakapan dengan teman seiman, selalu dapat menolongnya bangkit dari perasaan bersalah. Disiplin rohaninya menolong untuk mau lagi membuka diri mencari kesempatan untuk berpasangan.
Beberapa keraguan akan diri memang dialami tapi, firman Gembala Agung itu senantiasa hadir. Naik turun dalam pencarian pasangan terjadi. Namun, kehadiran Sang Gembala adalah pasti. Tidak sedetik pun Fera ditinggalkan. Inilah yang menjadi sumber pengharapannya di kala ketidaklayakan diri menghujamnya.
Awal 2025 Seorang pria menghubunginya. Dia adalah rekan pelayanan Fera di masa kuliah. Kebersamaan di masa itu membekas di benak pria tersebut. Setelah melalui pertimbangan panjang pria tersebut memutuskan untuk menyatakan maksudnya pada Fera. Meskipun tidak sesuku seperti yang diharapkan Fera, dia menerima pria itu dengan terbuka. Fera membiarkan dirinya ditangkap. Bukan oleh pria tersebut, melainkan oleh rencana Tuhan yang tak terduga.
“Tidak pernah mengira ada pria yang kejar. Selama ini harus aku yang kejar. Ternyata cara kerja Tuhan berbeda dengan yang aku kira.” Pertemuan dengan Tuhan inilah yang menjadi modal bagi Fera untuk mempersiapkan pernikahan. Relasi pacaran tidak selalu mulus tapi, dia tahu Tuhan punya banyak jalan agar Fera tidak tersesat masuk dalam rencana-Nya.
ilustrasi: pexel.com
