Seribu Satu Ekspresi Cinta Tuhan Bagi Manusia
Aku menutup pendalaman Alkitab kala itu dengan sebuah pertanyaan. Masing-masing anggota pendalaman Alkitabku memberi jawab. Namun, ada satu jawaban yang mengusikku.
.png&w=3840&q=75)
“Jadi apa yang kalian nikmati dari pembahasan hari ini?”
Aku menutup pendalaman Alkitab kala itu dengan sebuah pertanyaan. Masing-masing anggota pendalaman Alkitabku memberi jawab. Namun, ada satu jawaban yang mengusikku.
“Sebenarnya pembahasan ini bukan hal baru. Kan, sudah sering dengar tentang kasih Tuhan yang berkorban. Hanya aku disegarkan lagi saja.”
Sebagai pemimpin kelompok pendalaman Alkitab, aku sebenarnya menginginkan jawaban lebih dari itu. Aku ingin setiap anggota merespon dengan kekaguman. Seolah-olah mereka baru saja mendapatkan sesuatu pengetahuan yang baru. Aku yang lebih tau dan mereka yang baru tau. Rasanya lebih puas begitu.
Sore itu kami membahas bagian firman Tuhan dari kitab Hosea. Hosea diminta Tuhan untuk menikahi Gomer, perempuan yang suka bersundal dan berzinah (Hos. 3:1). Aku belajar kalau sebuah pernikahan akan berhasil jika setiap pasangan saling bekerja sama dengan baik. Bagaimana dengan pernikahan Hosea dan Gomer ini? Apakah Gomer berzinah karena ada peran Hosea yang gagal berperan sebagai suami yang baik bagi Gomer?
Namun, jika kita belajar dari kitab Hosea, kita akan menemukan pernikahan Hosea dan Gomer adalah Gambaran relasi Tuhan dengan umat Israel. Bagaimana Israel sudah bersundal hebat, dengan menyembah berhala-berhala. Meskipun begitu Tuhan tetap mengasihi bahkan rela membeli Kembali umatnya dari perbudakan seperti Hosea membeli Gomer yang sudah terjual sebagai budak. (Hos. 3:2). Betapa hancurnya hati Tuhan terwakilkan lewat Hosea Ketika melihat istri sahnya berdiri siap dibeli sebagai budak. Seharusnya Hosea bisa berelasi bebas dengan Gomer yang adalah istrinya tapi, terhalang karena kali ini istrinya bukan lagi miliknya, melainkan menjadi budak milik orang lain.
Kisah kasih Tuhan seringkali sudah kita dengan dalam ibadah-ibadah. Buat anak Tuhan yang telah lama percaya kisah itu sudah tidak baru lagi. Mungkin sudah menjadi biasa dan tidak lagi memukau. Akhirnya kisah pengorbanan Yesus seolah menjadi kehilangan kekuatannya. Tidak lagi kisah itu memenuhi hati dengan sukacita dan rasa Syukur.
Pulang dari pendalaman Alkitab itu saya merenung. Emang benar, sih, kisah kasih Tuhan bukan kisah yang baru didengar oleh kelompok pendalaman Alkitabku. Kisah itu adalah kisah lama tapi, toh, ternyata kisah itu tidak kehilangan kekuatannya. Anggota kelompokku sendiri mengatakan kalau kasih Tuhan akan dirinya disegarkan oleh pembahasan kitab Hosea.
Aku teringat salah satu pengajaran mengenai pernikahan. Sepasang suami istri perlu menghangatkan kasihnya yang telah dingin. Mereka bisa pergi ke tempat pertama kali jumpa, makan malam Bersama, atau cara apapun agar kasih mereka tetap menyala bagi satu dengan yang lain.
Kalau Tuhan menggambarkan relasi-Nya dengan umat-Nya dengan relasi sepasang suami istri, lantas bagaimana cara kami (Tuhan dan saya) bisa saling menjaga cinta untuk tetap menyala bagi satu dengan yang lain?
Saya merenung, rasanya saya tidak perlu menjaga cinta-Nya Tuhan bagi saya. Lewat kisah Hosea dan Gomer, Tuhan sendiri menyatakan kalau cinta-Nya itu tanpa syarat. Dia selalu mengasihiku seburuk apapun kondisinya. Justru akulah yang perlu menjaga cintaku agar terus tertuju pada Tuhan. Permasalahannya adalah bagaimana caranya? Kadang-kadang berhasil, kadang-kadang gagal. Begitulah hasil dari usahaku untuk menyalakan cinta bagi Tuhan.
Tidak konsisten. Tidak setiap hari aku berhasil membuat diriku sendiri senyum-senyum kagum akan kasih Tuhan. Tidak juga setiap waktu aku berhasil membuat diriku menangis terharu mengingat salib Yesus. Kadang-kadang, yah, biasa saja. Aku sudah tau Yesus mati buatku tapi, ingatan itu tidak membuat mulutku terngaga-nganga, bengong-bengong, termenung, kok, bisa ada pribadi yang mengasihiku sebegitunya. Jadi siapakah yang bisa menyalakan cinta di hatiku ini untuk Tuhan? Syukurnya, Tuhan sendirilah berinisiatif menyalakan cintaku yang padam itu.
Aku ingat ada begitu banyak kisah di Alkitab yang Tuhan pakai untuk menyatakan cinta-Nya bagiku, dan bagi orang-orang yang dikasihi-Nya. Tuhan tidak kekurangan cara untuk menyatakan cinta-Nya. Dia tidak kurang kreatif untuk menyalakan cinta manusia yang telah dingin bagi Tuhan. Tuhan punya banyak metafora-metafora, analogi-analogi, yang kalau diterjemahkan akan berbunyi, “Aku mengasihimu, umat-Ku.”
Perumpamaan dirham yang hilang, Domba yang hilang, Anak yang hilang. Perumpamaan gembala yang baik. Perumpaman dua orang yang berhutang. Perumpamaan orang Samaria baik hati. Ada juga peristiwa secara langsung yang menunjukan kasih Tuhan bagi manusia seperti kisah Zakheus, Bartimeus, dua murid Emaus, Petrus yang dipulihkan, dan masih banyak lagi.
Dari perjanjian lama kita melihat Tuhan mengasihi manusia lewat mana di padang gurun, air minum yang muncul dari batu, kembalinya Israel ke tanah perjanjian, Pembangunan ulang bait Allah, kisah pernikahan Hosea-Gomer, dan masih banyak lagi.
Jadi kalau perumpamaan tentang anak yang hilang sedang tidak membuat diriku terpukau, masih ada banyak perumpamaan dan kisah lain yang dapat membuatku terpukau akan kasih-Nya.
Pendalaman Alkitab saat itu membuatku bersyukur. Aku punya Tuhan yang mau bekerja sama untuk saling menjaga relasi cinta. Bukan, jauh lebih baik. Aku punya Tuhan yang inisiatif, punya Tuhan yang kreatif, punya Tuhan yang pantang menyerah dengan banyak cara untuk menyalakan cintaku yang padam bagi-Nya. Aku tidak kekurangan cara untuk menyalakan cinta bagi Tuhan. Tuhan telah menyediakannya.
Ada sebuah puisi yang berjudul, “The Hound of Heaven.” Walaupun penggunaan istilah dalam puisi ini cukup berani tapi, puisi ini mau mengisahkan tentang pengejaran kasih Tuhan kepada jiwa manusia. Tuhan diibaratkan seperti anjing pemburu. Anjing pemburu tidak akan pernah berhenti mengejar mangsa sampai ditangkapnya. Buatku ini adalah Gambaran yang menenangkan.
Aku punya kecenderungan lari dari Tuhan. Sekalipun begitu ada ‘Anjing Pemburu Sorgawi’ yang selalu siap mengejar dan menangkapku. Jenis kasih seperti ini yang jiwaku butuhkan. Jenis kasih yang tidak menyerah terhadapku dan terus mengasihiku. Kasih seperti inilah yang pada akhirnya membuatku menyerah dan ingin terus Kembali sekalipun aku telah lari jauh.
Pendalaman Alkitab saat itu mempersiapkan diriku di masa pra-paskah ini. Inilah masa di mana aku perlu serius merenungkan kasih Tuhan. Mari Bersama-sama kita mengingat kasih Tuhan yang begitu besar bagi manusia. Kematian Yesus, Putra Tunggal Bapa, serta kebangkitan-Nya telah memperbaiki relasi yang telah rusak karena dosa.
Sebuah lirik lagu dengan jelas mengajak kita untuk mengingat kasih-Nya.
Ingat kasih-Nya
Ingat kebaikan-Nya
Dan anugrah-Nya, s’lamatkanku
S’bab kasihh-Nya setinggi langit
Kasih setia Allah pada kita
Besar kasih Allah pada kita
Tuhan punya seribu satu cara untuk menyatakan ‘I love You,’ pada kita. Ternyata bulan cinta kasih tidak berhenti di Februari tapi, masih lanjut sampai masa paskah. Akhir kata Selamat mengingat kasih-Nya yang besar, ajaib, dan setia.
