Tidak Semua Ingin Menang Sebagian Hanya Ingin Terhibur
Selama aku bermain Mobile Legend, aku menyadari tidak semua orang yang bertanding ingin menang. Permainan ini membutuhkan tim terdiri dari lima orang untuk mencapai kemenangan.

Selama aku bermain Mobile Legend, aku menyadari tidak semua orang yang bertanding ingin menang. Permainan ini membutuhkan tim terdiri dari lima orang untuk mencapai kemenangan. Setiap orang dalam pertandingan memiliki peran yang berbeda-beda. Masalahnya terkadang ada saja orang yang sengaja mengambil peran yang telah terisi. Akibatnya permainan menjadi tidak seimbang. Ketika diminta untuk mengisi peran yang kosong, mereka tidak mendengarkan dan berkata terserah gw. Ketika masuk pertandingan dia tidak bermain dengan baik. Sengaja bermain sendiri dan terpisah dari tim. Seusai pertandingan bisa ditebak mengalami kekalahan. Jika sudah seperti itu saya merasa jengkel. ”Kalau memang tidak mau menang lebih baik tidak usah main,” pikirku. Tapi kembali lagi, akun game milik dia, yah terserah dia mau menggunakannya untuk apa.
Bisa jadi dari awal dia memutuskan bermain pada hari itu, dia bukan hendak mencari kemenangan. Bisa jadi dia lagi stress dan ingin melampiaskannya dalam game. Tidak harus menang, yang penting sejenak pikiran pergi meninggalkan sumber tekanan. Ada juga yang bermain motivasi utamanya adalah terhibur. Kalau menang itu bonus. Aku tau benar kalau game sebenarnya hanyalah hiburan. Mungkin orang-orang ini hanya ingin terhibur bukan ingin menang. Mungkin aku sendiri yang salah mengharapkan kemenangan di sebuah hiburan dalam bentuk pertandingan. Memang aku mau menghibur diri tapi, bukan dengan pertandingan. Melainkan dengan kemenangan.
Aku juga punya teman kantor yang serupa. Ada sebuah permainan kartu yang sering kumainkan dengan teman-teman kantor di sela-sela istirahat. Permainan itu dapat terdiri dari 3-4 orang yang saling bersaing. Salah satu temanku tidak pandai memainkannya. Namun, dia sering sekali ikut bertanding. Dia tahu dia tidak akan menang. Tapi, dia suka dengan suasana dan tawa yang terjadi dalam pertandingan itu. Waktu ditanya kenapa sering ikut bertanding, dia menyatakan hanya untuk mengalihkan pikiran dari stres. Dalam permainan ini aku tidak stres melihat temanku yang bersikap seperti itu sebab dia tidak mempengaruhi kemenanganku. Aku sendirilah yang mengusahakan kemenangan. Berbeda cerita kalau kita harus menjadi rekan. Tentu aku ingin dia menyalakan gairahnya untuk menang.
Tidak semua orang ingin menang, sebagian hanya ingin dihibur. Setelah aku renungkan, ternyata akupun juga terkadang bersikap seperti itu. Dalam pertandingan iman, terkadang aku tidak selalu menginginkan kemenangan. Diriku tidak mau berjuang dan bersusah-susah. Aku mau dimanjakan dan dihibur. Apalagi sarana yang sangat menggiurkan memberikan kedua hal itu selain dosa? Seringkali ketika godaan berdosa datang aku cenderung enggan bertarung. Aku enggan melawannya dan membiarkan diriku jatuh di dalamnya. Aku pasif seolah tidak ada kuasa. Padahal aku tau Yesus sudah menebusku. Dia memberiku kuasa untuk berkata tidak pada dosa. Aku bukan lagi budak dosa (Roma 6:18). Hanya saja terkadang dagingku masih ingin dihibur oleh dosa. Aku tidak mendisiplinkan diriku seperti Paulus (1 Korintus 9:27).
Aku ingat satu bagian firman yang menguatkan diriku untuk lebih memilih menang melawan dosa ketimbang dihibur olehnya.
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. – Ibrani 12:1-4
Dari ayat ini aku belajar pertama-tama melatih mataku. Mataku perlu fokus kepada Kristus. Kristus yang menjadi teladan dalam ketekunannya memikul salib. Dia tekun menanggung bantahan. Dialah sumber kuatku. Kegagalanku dalam melawan dosa adalah karena mataku salah memandang. Aku tidak fokus kepada perlombaan yang sedang diwajibkan, justru malah memandang kepada nikmatnya dosa. Pada akhirnya aku sadar seperti kata nas tersebut, dalam pergumulanku melawan dosa, darahku belum sampai tercurah. Darah Yesuslah yang tercurah untuk kemenanganku melawan dosa.
Aku sendiri tidak punya kekuatan menang melawan dosa. Jadi kalau aku bertanding melawan dosa, sudah pasti aku kalah. Bisa jadi selama ini aku mengandalkan kekuatanku sendiri. Penulis kitab Ibrani sudah memberi tahu kalau aku memerlukan Kristus dalam pertandingan imanku. Aku sendiri merenung tidak salah aku mencari penghiburan. Hanya saja aku salah mencari sumber penghiburan. Seharusnya aku mencari penghiburan dari Tuhan dan melawan dosa, ini malah terbalik. Aku mencari penghiburan dari dosa dan akhirnya melawan Tuhan.
Akhirnya aku belajar untuk memilih pertandingan dengan tepat. Bermain kartu atau Mobile Legend, adalah pertandingan sepele. Seandainya aku pun kalah di situ tidaklah masalah. Aku tidak perlu kesal jika ada orang yang hanya mencari hiburan dan bukan kemenangan dalam permainan itu. Tapi, aku harus sedih kalau dalam pertandingan iman ada orang lain yang hanya mencari hiburan dan bukan kemenangan. ini juga menjadi sebuah peringatan bagiku agar juga tetap tekun dalam pertandingan imanku. Bukan hanya sekedar cari mudah dan gampangnya saja tapi, benar-benar merindukan kemenangan dalam pertandingan imanku.
