Articles

Mengenali Kehendak Tuhan Lewat Pengenalan Diri

Perasaan baru pesta tahun baru kemarin, ini sudah masuk Februari saja. Padahal belum juga ngapa-ngapain.” Rasanya waktu itu lebih cepat berjalan daripada perubahan hidupku.

Mengenali Kehendak Tuhan Lewat Pengenalan Diri

”Perasaan baru pesta tahun baru kemarin, ini sudah masuk Februari saja. Padahal belum juga ngapa-ngapain.” Rasanya waktu itu lebih cepat berjalan daripada perubahan hidupku. Sekalipun aku mengusahakan perubahan, rasanya situasi masih sama begitu saja. Aku mau konsisten untuk mengunggah komik-komik Kristen buatanku tapi, kok, masih saja aku gagal konsisten. Satu bulan ini saja aku gagal konsisten berkali-kali. Aku mulai merenung apakah ini karena kelalaianku menggunakan waktu atau ketidakmampuanku membawa perubahan? Atau jangan-jangan Tuhan sedang menjegal usahaku untuk berubah?

Mengapa Tuhan harus menjegal usahaku?

Bagiku membuat komik-komik Kristen adalah salah satu perbuatan baik. Masih ada perbuatan dan rancangan baik lain yang aku tulis di awal tahun. Mengapa Tuhan harus menjegal rancangan baik dan perbuatan baik itu? Aku tidak sedang membuat rencana untuk mencuri harta orang, membalas dendam kesalahan orang, atau memfitnah orang lain. Aku membuat rancangan baik, bahkan ada rencana yang kuatas namakan untuk Tuhan.

Waktu aku merenungkan semua hal itu tiba-tiba sepenggal firman Tuhan muncul:

Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. – Yakobus 4 : 15-16.

Waduh! Aku berseru. Aku khawatir kalau rancangan-rancanganku itu berasal dari keangkuhan diri sehingga Tuhan tidak berkenan pada rancangan-rancangan itu. Oleh sebab itu aku mulai mengambil kembali daftar rancangan yang sudah kusiapkan untuk tahun 2025 ini. Aku mulai menelitinya satu per satu yang mana yang Tuhan tidak suka. Manakah yang berasal dari keangkuhan diriku? Semua daftar itukah atau hanya beberapa saja?

Aku frustasi dan kesulitan mencarinya. Aku berdoa pada Tuhan untuk menunjukannya padaku. Perlahan dia memimpinku. Ingatan akan sebuah ayat memenuhi pikiranku:

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. – Efesus 5: 15-17.

Kini aku tahu di mana letak kesembronoanku. Di awal tahun aku hanya memikirkan pencapaian apa saja yang ingin kucapai selama satu tahun waktu hidupku. Aku lupa kalau hari-hari ini adalah jahat. Maksudnya adalah hari-hari yang aku jalani itu tidak kondusif untuk menolongku mengerti kehendak Tuhan. Ada banyak hal dalam waktu hidupku yang membuatku bodoh sehingga gagal mengerti kehendak Tuhan. Firman ini mendorongku untuk lebih serius lagi menggunakan waktu yang ada bukan untuk berencana atau melakukan tindakan, melainkan untuk mencari kehendak Tuhan. Apa gunanya bertindak dan punya banyak pencapaian jika semua itu salah tujuan?

Mengenal Tuhan, mengenal diri

Januari minggu pertama aku mengikuti sebuah retret. Ada pertanyaan perenungan yang diajukan oleh salah satu pembicara dan membekas dalam hatiku. ”Kita suka bilang kalau kita berdoa pada Tuhan tapi, Tuhan yang mana? Kita bilang kita sedang melakukan kehendak-Nya tapi, apa benar itu kehendak-Nya? Atau jangan-jangan kita sedang melakukan kehendak kita dan dibungkus nama Tuhan? Jangan-jangan kita berdoa pada diri sendiri bukan pada Tuhan.” Pertanyaan-pertanyaan ini menohokku. Syukurnya, pembicara itu memberikan cara agar kita dapat peka mengetahui apakah ini kehendak Tuhan atau kehendak kita sendiri.

Mengetahui kehendak Tuhan dimulai dari pengenalan akan diri. Sebaliknya pengenalan diri dimulai dari pengenalan akan Tuhan. Untuk mengetahui kehendak Tuhan diperlukan pengenalan akan diri terlebih dahulu. Oleh karena terkadang keputusan kita tanpa sadar dimotivasi oleh keinginan manusiawi kita. Bisa jadi di mulut kita berkata untuk Tuhan tapi, di dalam hati aku mencari popularitas. Aku mulai menyelidiki diriku dalam perihal membuat komik Kristen. Apakah benar Tuhan mau aku membuat komik Kristen. Ini yang aku temukan selama perenunganku.

  • Aku mendaftarkan perasaan, emosi, dan pikiran yang aku temukan selama membuat komik Kristen.
  • Aku merasa dihargai sebab aku mendapatkan feedback positif dari pembaca komikku.
  • Aku merasa bermakna dan berguna karena berhasil menyenangkan pembacaku.
  • Aku merasa cepat mendapatkan hasil kerja kerasku ketimbang memuridkan seseorang.
  • Aku melihat ada peluang ini akan dapat semakin berkembang dan menghasilkan pemasukan.

Aku malu. Ternyata dibalik alasan membuat komik Kristen ada alasan-alasan egois untuk memuaskan kebutuhanku sendiri. Entah kebutuhan akan penghidupan, kebermaknaan, penerimaan, atau yang lainnya. Tanpa sadar motivasi-motivasi ini menggerakan aku menggambar karakter Yesus di dalam komik-komikku. Tanpa sadar motivasi-motivasi ini membuatku menuliskan ayat Firman Tuhan dalam komikku. Bukan, bukan demi kemuliaan Tuhan. Bukan, bukan untuk melayani Dia. Bagaimana aku menggeser motivasi-motivasi ini? Apa yang aku pikir baik ternyata dapat membawa dosa kemunafikan oleh karena hati kotorku. Apa aku sebaiknya berhenti membuat komik?

Di retret itu aku diajak untuk mengakui di hadapan Tuhan kalau memang ada motivasi-motivasi tersebut. Aku makin sadar di dalam setiap rencana atau tindakan yang kulakukan pasti terselip motivasi egois yang kutujukan untuk diriku sendiri. Oleh sebab itu retret itu mendorongku untuk terus menyelidiki segala motivasi dari setiap tindakannku. Setelah aku tahu apa yang memotivasiku, aku perlu pelan-pelan terus mengingatkan diriku apa yang seharusnya menjadi motivasi yang tepat.

Akhirnya aku sangat bersyukur kalau aku bisa mengulas ulang rancangan-rancanganku di tahun ini. Bukan demi target-targetku tercapai tapi, supaya aku semakin peka dengan kehendak Tuhan. Supaya semakin hari semakin bisa membedakan apa yang benar-benar menjadi kehendak Tuhan.